Kamis, 07 April 2016

Golongan darah dan keperibadian

"Kamu golongan darahnya apa?"

Akhir-akhir ini seorang teman kerja yang menurut saya manis kepada saya selalu membahas-bahas tentang golongan darah dan hubungannya terhadap keperibadian. Setiap orang yang belum lama dikenalnya selalu diajukan pertanyaan yang sama dan dengan polosnya orang-orang yang ditanya, termasuk saya, menjawab dengan gamblang:

"Aku A." Jawabku kala itu.
"Oooh. Suamimu apa?"
"Suamiku O. Kenapa memangnya?"
"Waaah kebayang ya bagaimana rumah tangga kalian. O itu sifat yang paling keras dari semua golongan darah, dan A pun sama, jadi kebayang gimana kalo pasangan suami istri sama-sama keras."
"Kalo yang paling kalem?"
"B yang paling baik, paling kalem."
"Oooh. Kalo kamu golongan darahnya apa?"
"Kalo aku B donk." -_-

Waktu itu saya hanya diam. Tak terpikir implikasi lebih lanjut dari pertanyaan itu. Teman yang tadinya manis itu mulai berubah. Setiap kali ada kesempatan ngobrol berdua, dia menghindar, dan tidak lagi manis seperti sebelumnya. Lebih acuh dan dingin, bahkan saat bertemu sekedar menanyakan kabarpun saya tidak mendapat feedback yang enak.  Saya sempat berfikir, Apa saya salah bicara atau ada kesalahan lain ya? Saya sibuk mengingat-ngingat kenapa teman yang manis itu tiba-tiba berubah. Di satu sisi, ia terkesan dingin, disisi lain, dia manis kepada beberapa orang tertentu. Sangat manis malah. Keadaan terus berlangsung seperti itu sampai pada suatu hari saat saya masuk ruangan kantor, si teman saya itu sedang mengobrol dengan sangat akrab dan manis dengan salah satu teman karibnya. Temannya teman saya tersebut pun bertanya;

"Mba golongan darahnya apa?" Sama persis.
"Aku A. Mba?"
"Aku B. Golongan darah kita sama," menunjuk ke dirinya dan ke diri teman saya." A itu orangnya ga keras ya, yang keras itu O?" What The?
"Oh ya?" Tanyaku.
"Iya. A baik kok."
"Iiih A itu keras tauuu KERAS BANGEEED. " kata temanku.
"Engga tauu A itu mendingan."
"Keras banged A itu. Mungkin diluarnya kalem tapi di dalemnya sebenarnya keras. Kalo B engga, B itu baik, lembut dan kalem."

What The????
Saya hanya terperangah bagaimana mereka menjudge saya berwatak keras hanya berdasarkan golongan darah saya. Jujur saya merasa gerah mereka menilai dan memutuskan saya begini atau begitu di depan mata kepala saya. Dari situ saya sadar, ternyata teman saya berubah bukan karena pertemanan kami tapi karena golongan darah saya!!! Beberapa orang yang dia sangat akrab pun ternyata semuanya hanya bergolongan darah B.

Apakah harus seperti itu mensikapi orang berdasarkan golongan darahnya?
Apakah orang baik atau buruk hanya ditentukan dari golongannya darahnya saja?

Saya rasa tidak. Golongan darah apapun yang dimiliki seseorang adalah pemberian Allah, satu kelebihan dan potensi yang berbeda-beda bagi tiap orang. A juga punya sisi baik. O juga punya sisi baik. Semua orang punya sisi positif dan kekurangan masing-masing. Wajar, karena kita hanya manusia yang punya banyak kelemahan dan kesalahan. 

Golongan darah bukanlah alat ukur untuk menilai kepribadian seseorang secara mutlak. Ada banyak faktor-faktor lain seperti masa lalu, lingkungan, dan bahkan moment-moment penting yang mempengaruhi watak manusia. Pun, manusia selain diberi DARAH juga diberi AKAL oleh Allah sehingga bisa mempertimbangkan dan menilai akibat dan baik-buruk dari sifat dan perbuatannya.

Dan menurut saya teman saya ini lucu. Dia seorang Konselor. Tak tanggung-tanggung pendidikan Konselornya mencapai tingkat Strata 2 (S2), tapi bagaimana bisa dia menilai seseorang, memutuskan berteman atau tidak, dekat atau tidak, baik atau tidak, hanya dari golongan darahnya, dan parahnya lagi hanya menyebutkan sisi kekurangan dari golongan darah lain didepan mata orang tersebut! Kenapa ia tidak memention sisi positif dari golongan darah saya yang A, atau golongan darah mereka yang O, mengapa ia tidak mengutarakan bahwa A punya semangat juang yang tinggi dan O merupakan seorang pemimpin yang handal dan kharismatik, dan menjauhi saya karena saya ini seorang A yang 'keras'. Sedih rasanya mengingat dulunya ia teman yang manis dan kami berteman cukup akrab.


Iya memang saya keras.
Saya memiliki keinginan yang keras untuk berjuang.
Saya pantang menyerah dan mundur dalam keadaan apapun. 
Saya pantang patah semangat bagaimanapun keadaan saya.
Saya keras kepada diri saya sendiri dalam mengejar impian saya.
Keinginan saya keras untuk mewujudkan apa yang saya cita-citakan.

Nah, kalau dipandang dari dua sisi begini, golongan darah apapun akan menyadari siapa dirinya dan apa potensinya, akan mengerti bahwa ia pun berharga. Tak perlu lagi lah ada orang yang merasa dirinya hanya berwatak "negatif" tanpa sadar bahwa jika ditempatkan dengan apik justru bisa menjadi potensinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar